Thursday, June 2, 2011
Kisses part I ( Maaf )
1:50 PM
Acara Wisuda Sarjana baru sedang berlangsung di balairung. ibu saya hadir. Tetapi saya tak ada disana, saya disini, bersamanya..
***
Pada suatu malam , sebulan yang lalu, saya dduk di ruang tengah merapikan skripsi yang penuh dengan catatan dan komentar - komentar dari dosen pembimbing. Dia duduk diam - diam di hadapan saya dan tidak bersuara. saya yang menyuruhnya begitu, sebenarnya tidak enak memaksa nya diam tetapi apa boleh buat , kalau tidak dia akan mengganggu saya dengan suaranya yang tipis tapi tajam itu. Belum lagi tawanya yang keras yang menyakitkan telinga. Skripsi ini sudah dua kali lewat waktu deadline. Tetapi berkat kebaikan hati dosen pembimbing, saya masih mendapat perpanjangan waktu. kalau yang satu ini tidak juga selesai, maka runtuh sudah harapan ibu punya anak sarjana.
Sepi sekali diantara kami cuma ada bunyi tuts keyboard laptop saya. ketika melirik ke arahnya , ternyata dia masih dengan posisi duduk yang sama. menundukan muka, tangannya terlipat di meja.
" tidak enakan juga kalau terlalu sepi," akhirnya saya yang tak tahan melihatnya diam begitu. Dia tidak bergerak tetap duduk tegak dengan mata lurus menatap meja.
" Ayo bicara! Cerita apa saja!"
Dia mengangkat wajah nya sambil menggeleng,
" Hari ini aku tidak punya cerita," katanya dengan suara yang tipis, melayang di ruang tengah.
Tiba - tiba dia bangkit dan pergi begitu saja. hingga pagi tak kembali. Itu kebiasaan nya pergi tapi esok malam ia pasti kembali lagi. Saya sendirian bekerja hingga matahari menembus tirai jendela. Ibu bangun sambil melangkah ke dapur dan ia memeluk saya dan sekilas mencium dahi. saya tahu, sebentar lagi akan datang secangkir kopi susu dan roti bakar.
****
Saya terbangun tengah malam setelah tidur cukup lama seusai bimbingan sore tadi. sepertinya kemarin rumah sudah sepi, hanya tinggal lampu di luar rumah dan dapur yang menyala. Ibu sudah tidur sejak tadi. Saya lapar. Semoga di kulkas ada makanan yang bisa d santap tanpa harus repot memanaskan nya lagi.
Belum lagi sampai dapur, saya sudah melihatnya duduk di kursi yang kemarin.
" jangan duduk dalam gelap. Kemari, " saya menyalakan lampu. saya melihatnya tersenyum, " ada cerita apa hari ini? " dia tersenyum sambil mengangkat bahu, memamerkan giginya yang putih. rambutnya yang panjang melewati bahu, disibahkan.
" lapar. temani aku makan," dia bangkit mengiringi saya ke dapur. dia melompat naik, dan duduk diatas meja dapur ibu. kakinya yang mungil mejuntai, di ayun - ayun.
" kamu riang seklai hari ini," saya mendengarnya menggumamkan sebaris nada. Entah lagu apa.Dia mengangguk - angguk.
" Ayo cerita! apa yang membuatmu begitu gembira?" dia memandang saya dengan matanya yang bulat dan besar itu. seakan tak percaya saya memintanya berceita.
" nanti tidak disuruh diam lagi?" dia bertanya setiap kali ia bersuara, saya selalu terperanga, suaranya terdengar seperti menerawang bakkain saringan tahu. tidak bulat. tidak lantang. lebih seperti goresan bunyi.
" tidak. aku tidak siap mendengarnya," saya memandang roti sisa tadi pagi. tampaknya hanya ini pilihan makan malam saya.
" aku senang, aku jatuh cinta!" katanya dengan suara yang lembut dan nyaris tak terdengar.
" wow, ini menarik! dengan siapa?" saya ingin tahu.
" aku idak mau bilang!" katanya menggoda.
" ah , curang! kamu sudah memberi intro yang begitu menarik, sekarang di putus begitu saja. Ayo dengan siapa?" saya terus mendesak. " kamu cantik, pasti lelaki yang kau taksir itu juga tampan. orang sini?". dia mengangguk mendengar pertanyaan saya.
" Ah, siapa? apa aku kenal?"
Dia tersenyum.
" beri aku ciri - cirinya. mungkin bisa kutebak," saya makin penasaran.
dia malah tertawa keras - keras mengumandangkan suara yang aneh itu. memekakkan telinga.
" jangan ribut, ini sudah malam!" saya mengingatkan dia agar menahan tawanya. tetapi ia tak juga berhenti. ia terus tertawa, hingga akhirnya saya jengkel.
" DIAM!!" saya terpaksa membentaknya. kepala saya pusing mendengar tawanya yang keras itu. ia tersedak. tawanya berhenti. matanya membelalak. terkejut mendengar suara saya yang cukup keras. setidaknya untuk ukuran malam itu.
" aku suka mendengar kau tertawa, cerita tapi jangan terlalu keras. suaramu itu menyakitkan telinga. kau harus tahu itu!" saya buru - buru memegang tangannya. mencegahnya untuk tidak menangis.
" Hei, aku benci perempuan cengeng!" dia mengangguk sambil tangannya menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
Saya berbalik ke ruang tengah, menyalakan televisi, sementara mulut mulai mengunyah roti yang tak lagi kenyal. " Sini, Duduk," saya nengajaknya duduk menikmati siaran berita. sudah jam satu pagi. saya biarkan dia diam . penyiar yang tampak lelah. kembali membacakan berita yang sudah saya dengar sebelum tidur tadi. bosan, tapi tak ada pilihan lain.
" dia menciummu?"
Dia membelalakkan mata mendengar pertanyaan saya.
" siapa?" tanyanya.
" Laki - laki yang kau cintai itu, menciummu?"
Dia menggeleng.
" Kau pernah mencium pacarmu?" tanya nya tiba - tiba. saya geli mendengar pertanyaan nya.
" Pacar pernah. bukan pun pernah" dia membelalakkan mata lagi. Heran dan jengkel mendengar tawa kecil saya.
" itu biasa "
" tapi kau cinta pada perempuan yang bukan pacarmu itu? yang kau cium itu?"tanya nya sambil menyorongkan wajahnya ke arahku.
" tidak, tidak perlu cinta. kalau aku suka, dia suka, aku mau, dia mau, langsung saja!" saya melihatnya mengerutkan dahi. Tidak setuju.
" Ah jangan begitu! berciuman itu sangat menyenangkan!" saya menyorongkan bibir ke arahnya, dia mundur. " bibirku yang tebal ini ternyata sangat menggoda banyak perempuan. Dicium, Digigit, Diajak bermain dengan lidah, semuanya. Pertemuan bibirku dan bibir perempuan selalu mengasyikan! Rasanya seperti ada aliran listrik yang kuat. jantung jadi berdebar, berkeringat, bernafsu! Kelebihan satu menit saja, ah gerbang - gerbang surga terbuka!" saya tak bisa menahan tawa yang mendadak mendesak keluar. " hah, kau pasti belum pernah merasakannya!" Dia diam saja.
" Mau kucium?" sekali lagi saya menyorongkan wajah ke arahnya. Dia melompat mundur. kaget saya tak bisa menahan tawa. Lucu? entah, saya hanya ingin tertawa. tetapi justru saat tertawa kian meriah, dia bangkit, meniggalkan saya. lagi.
*****
Saya sedang berusaha untuk tidur. ketika kaki terasa dingin seperti terbungkus es. Dia ada d ujung tempat tidur. " dari mana saja kau? dua minggu tidak muncul. Skripsi ku sudah selesai tahu?" kamar yang gelap membuat saya sulit melihat wajahnya. tesenyumkah dia?
" mau tahu siapa pacarku?" katanya tiba - tiba. mengabaikan berita gembira yang saya sampaikan barusan. saya langsung bangun, " siapa?" dia berdiri, melangkah ke luar kamar tanpa menjawab pertanyaan saya yang penuh semangat itu. terpaksa saya mengikutinya.
" Ayo beritahu aku!" saya mendesak.
Dia menempelkan dagu pada meja. Dia tidak tersenyum. matanya menyorot tajam ke arah saya. Tiba - tiba jantung saya berdebar kencang. Kaus yang saya pakai bergetar karenanya.
" KAU." bisiknya
saya terkejut, begitu terkejutnya sampai saya kembali ( aduh!) tertawa. meledak - ledak, tak tertahan.
" kau serius?" saya bertanya dia di sela tawa. Saya memandang matanya. tak percaya. tetapi saya tahu dia sungguh - sungguh. Ia memandang saya dengan wajah heran, tak menegrti bagaimana bis pernyataan cintanya yang sangat serius itu di sambut tawa berderai - derai, berkepanjangan. jelas tak ada niatannya untuk bergabung, tertawa bersamanya. saya terpaksa berhenti tertawa karena tiba - tiba saja tersedak. terbatuk - batuk hingga sesak napas. dia duduk tegak di depan saya. tak bergeming.
" ini serius?" saya bertanya sekali lagi, setelah setengah mati menarik napas, melenyapkan batuk. Kali ini saya tak lagi bisa tertawa. Hilang rasa lucu yang tadi begitu. dia mengangguk. Saya menarik nafas dalam - dalam.
" apa kau cinta padaku?" tanya nya. Sesak napas itu kembali lagi. Saya tak tahu harus menjawab apa saya suka melihat wajahnya. rambutnya yang panjang. Juga bibirnya yang mungil. Tapi cinta! saya tidak tahu apakah itu sudah bisa dibilang cinta. Entah berapa lama saya berdiam diri, tak bisa menjawb pertanyaannya.
" Kau tidak cinta padaku?" katanya dengan suara yang sangat lemah. nyaris tak terdengar. Dia hampir menangis. Saya tak suka melihatnya begini. Dia sudah siap pergi, ktika saya memegang tangan nya yang dingin, memaksanya duduk kembali. Walau tampak enggan, dia juga mau duduk di samping saya. Dingin sekali saya mengigil. Saya tak tahu harus bilan apa. pertanyaan nya terus menggema di kepala saya, Cinta padanya? saya tidak tahu, benar - benar tidak tahu. tetapi jujur saja, saya ingin sekali menciumnya. Ya, mencium bibirnya yang pucat, tanpa warna.
" Aku pergi dulu," katanya
" Tunggu!" saya mencoba menahannya. Dia memandangi saya dengan putus asa. Saya yakin dia tak tahu apa yang sedang saya inginkan. Bagaimana bisa? saya sendiri saja tidak tahu yang sebenarnya saya inginkan. Payah!
Jangan tanya apa penyebab nya. Saya sendiri tidak tahu. yang pasti, tiba - tiba saja saya memeluknya telapak tangan saya menagkap wajah nya yang mungil itu. Saya mencium bibirnya yang mengatup rapat dan dingin. dia mencoba melepaskan diri. Tetapi tangan saya lebih kuat. Saya terus mencium nya sampai ahirnya dia berhenti meronta. Perlahan lengannya yang dingin itu memeluk leher saya. bibirnya yang tadi terkatup, kini mulai membuka. memberi jalan pada lidah saya yang memaksa masuk sejak tadi. Tetapi pada detik itu juga seketika ada udara yang menyeruak masuk ke rongga mulut saya. Dingin dan pahit rasanya. Deras menerjang denan kuatnya hingga tenggorokan seperti terluka. Disaat itu, ada cairan asin mengalir di sela - sela gigi. bibir terasa perih. Giginya yang tajam itu mencengkram bibir saya! saya belum pernah merasakan ciuman seperti ini. Dia tidak juga mengangkat kepalanya. Matanya terpejam rapat, pelukannya begitu ketat. Saya mencoba menarik lidah yang beku karena udara dingin dan pahit yang terus - menerus mengalir, yang menjelajah turun hingga ke ujung - ujung kaki. Kepala terasa pusing, segalanya berputar cepat, berdesing. Sekali lagi saya mencoba melepaskan diri. tetapi dia kian erat memeluk. saya mulai sesak napas. tapi saya tak bisa menarik udara segar masuk ke lubang hidung. Saya tak bisa bernafas. tidak bisa! saya berteriak keras! tapi tak ada suara yang keluar. Saya perlu udara! saya kedinginan! dengan sekuat tenaga saya mencoba melepaskan diri dari pelukannya dari ciuman nya .Tapi tidak bisa.
******
Siang tadi sarjana baru di wisuda. Mereka berbaris rapi. Pakai toga hitam. Tetapi saya tidak ada disana. Saya ada disini, bersama dia. danIbu mewakili saya.
Malam itu, setelah kami berciuman saya tak lagi bisa bernafas. Buat selamanya. Saya mati denganudara dingin dan pahit yang dia biarkan masuk ke rongga mulut saya. dia telah membawa saya kedunia nya. MAAF katanya, bukan disengaja. katanya ini semua terjadi karena saya. Ya, saya yang memulai. saya menciumnya. Dia tak mau. saya memaksa. Katanya dia pikir saya tahu akibatnya. Sumpah, saya tidak tahu.
" MAAFkan saya," katanya sambil menggemgam tangan saya. tak lagi terasa dingin seperti biasanya. saya hanya memandang nya dan saya mencoba tersenyum. Air mata saya mengalir.
" maafkan saya." katanya lagi. Dia mendekatkan wajahnya. dekat sekali bibirnya menyentuh dahi, alis,bulu mata, pipi, hidung.... Dan kami berciuman lagi, lagi,..... dihadapan kami ibu duduk memeluk bantal yang basah.
Kami berciuman lagi...
****
love -- AH --
***
Pada suatu malam , sebulan yang lalu, saya dduk di ruang tengah merapikan skripsi yang penuh dengan catatan dan komentar - komentar dari dosen pembimbing. Dia duduk diam - diam di hadapan saya dan tidak bersuara. saya yang menyuruhnya begitu, sebenarnya tidak enak memaksa nya diam tetapi apa boleh buat , kalau tidak dia akan mengganggu saya dengan suaranya yang tipis tapi tajam itu. Belum lagi tawanya yang keras yang menyakitkan telinga. Skripsi ini sudah dua kali lewat waktu deadline. Tetapi berkat kebaikan hati dosen pembimbing, saya masih mendapat perpanjangan waktu. kalau yang satu ini tidak juga selesai, maka runtuh sudah harapan ibu punya anak sarjana.
Sepi sekali diantara kami cuma ada bunyi tuts keyboard laptop saya. ketika melirik ke arahnya , ternyata dia masih dengan posisi duduk yang sama. menundukan muka, tangannya terlipat di meja.
" tidak enakan juga kalau terlalu sepi," akhirnya saya yang tak tahan melihatnya diam begitu. Dia tidak bergerak tetap duduk tegak dengan mata lurus menatap meja.
" Ayo bicara! Cerita apa saja!"
Dia mengangkat wajah nya sambil menggeleng,
" Hari ini aku tidak punya cerita," katanya dengan suara yang tipis, melayang di ruang tengah.
Tiba - tiba dia bangkit dan pergi begitu saja. hingga pagi tak kembali. Itu kebiasaan nya pergi tapi esok malam ia pasti kembali lagi. Saya sendirian bekerja hingga matahari menembus tirai jendela. Ibu bangun sambil melangkah ke dapur dan ia memeluk saya dan sekilas mencium dahi. saya tahu, sebentar lagi akan datang secangkir kopi susu dan roti bakar.
****
Saya terbangun tengah malam setelah tidur cukup lama seusai bimbingan sore tadi. sepertinya kemarin rumah sudah sepi, hanya tinggal lampu di luar rumah dan dapur yang menyala. Ibu sudah tidur sejak tadi. Saya lapar. Semoga di kulkas ada makanan yang bisa d santap tanpa harus repot memanaskan nya lagi.
Belum lagi sampai dapur, saya sudah melihatnya duduk di kursi yang kemarin.
" jangan duduk dalam gelap. Kemari, " saya menyalakan lampu. saya melihatnya tersenyum, " ada cerita apa hari ini? " dia tersenyum sambil mengangkat bahu, memamerkan giginya yang putih. rambutnya yang panjang melewati bahu, disibahkan.
" lapar. temani aku makan," dia bangkit mengiringi saya ke dapur. dia melompat naik, dan duduk diatas meja dapur ibu. kakinya yang mungil mejuntai, di ayun - ayun.
" kamu riang seklai hari ini," saya mendengarnya menggumamkan sebaris nada. Entah lagu apa.Dia mengangguk - angguk.
" Ayo cerita! apa yang membuatmu begitu gembira?" dia memandang saya dengan matanya yang bulat dan besar itu. seakan tak percaya saya memintanya berceita.
" nanti tidak disuruh diam lagi?" dia bertanya setiap kali ia bersuara, saya selalu terperanga, suaranya terdengar seperti menerawang bakkain saringan tahu. tidak bulat. tidak lantang. lebih seperti goresan bunyi.
" tidak. aku tidak siap mendengarnya," saya memandang roti sisa tadi pagi. tampaknya hanya ini pilihan makan malam saya.
" aku senang, aku jatuh cinta!" katanya dengan suara yang lembut dan nyaris tak terdengar.
" wow, ini menarik! dengan siapa?" saya ingin tahu.
" aku idak mau bilang!" katanya menggoda.
" ah , curang! kamu sudah memberi intro yang begitu menarik, sekarang di putus begitu saja. Ayo dengan siapa?" saya terus mendesak. " kamu cantik, pasti lelaki yang kau taksir itu juga tampan. orang sini?". dia mengangguk mendengar pertanyaan saya.
" Ah, siapa? apa aku kenal?"
Dia tersenyum.
" beri aku ciri - cirinya. mungkin bisa kutebak," saya makin penasaran.
dia malah tertawa keras - keras mengumandangkan suara yang aneh itu. memekakkan telinga.
" jangan ribut, ini sudah malam!" saya mengingatkan dia agar menahan tawanya. tetapi ia tak juga berhenti. ia terus tertawa, hingga akhirnya saya jengkel.
" DIAM!!" saya terpaksa membentaknya. kepala saya pusing mendengar tawanya yang keras itu. ia tersedak. tawanya berhenti. matanya membelalak. terkejut mendengar suara saya yang cukup keras. setidaknya untuk ukuran malam itu.
" aku suka mendengar kau tertawa, cerita tapi jangan terlalu keras. suaramu itu menyakitkan telinga. kau harus tahu itu!" saya buru - buru memegang tangannya. mencegahnya untuk tidak menangis.
" Hei, aku benci perempuan cengeng!" dia mengangguk sambil tangannya menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
Saya berbalik ke ruang tengah, menyalakan televisi, sementara mulut mulai mengunyah roti yang tak lagi kenyal. " Sini, Duduk," saya nengajaknya duduk menikmati siaran berita. sudah jam satu pagi. saya biarkan dia diam . penyiar yang tampak lelah. kembali membacakan berita yang sudah saya dengar sebelum tidur tadi. bosan, tapi tak ada pilihan lain.
" dia menciummu?"
Dia membelalakkan mata mendengar pertanyaan saya.
" siapa?" tanyanya.
" Laki - laki yang kau cintai itu, menciummu?"
Dia menggeleng.
" Kau pernah mencium pacarmu?" tanya nya tiba - tiba. saya geli mendengar pertanyaan nya.
" Pacar pernah. bukan pun pernah" dia membelalakkan mata lagi. Heran dan jengkel mendengar tawa kecil saya.
" itu biasa "
" tapi kau cinta pada perempuan yang bukan pacarmu itu? yang kau cium itu?"tanya nya sambil menyorongkan wajahnya ke arahku.
" tidak, tidak perlu cinta. kalau aku suka, dia suka, aku mau, dia mau, langsung saja!" saya melihatnya mengerutkan dahi. Tidak setuju.
" Ah jangan begitu! berciuman itu sangat menyenangkan!" saya menyorongkan bibir ke arahnya, dia mundur. " bibirku yang tebal ini ternyata sangat menggoda banyak perempuan. Dicium, Digigit, Diajak bermain dengan lidah, semuanya. Pertemuan bibirku dan bibir perempuan selalu mengasyikan! Rasanya seperti ada aliran listrik yang kuat. jantung jadi berdebar, berkeringat, bernafsu! Kelebihan satu menit saja, ah gerbang - gerbang surga terbuka!" saya tak bisa menahan tawa yang mendadak mendesak keluar. " hah, kau pasti belum pernah merasakannya!" Dia diam saja.
" Mau kucium?" sekali lagi saya menyorongkan wajah ke arahnya. Dia melompat mundur. kaget saya tak bisa menahan tawa. Lucu? entah, saya hanya ingin tertawa. tetapi justru saat tertawa kian meriah, dia bangkit, meniggalkan saya. lagi.
*****
Saya sedang berusaha untuk tidur. ketika kaki terasa dingin seperti terbungkus es. Dia ada d ujung tempat tidur. " dari mana saja kau? dua minggu tidak muncul. Skripsi ku sudah selesai tahu?" kamar yang gelap membuat saya sulit melihat wajahnya. tesenyumkah dia?
" mau tahu siapa pacarku?" katanya tiba - tiba. mengabaikan berita gembira yang saya sampaikan barusan. saya langsung bangun, " siapa?" dia berdiri, melangkah ke luar kamar tanpa menjawab pertanyaan saya yang penuh semangat itu. terpaksa saya mengikutinya.
" Ayo beritahu aku!" saya mendesak.
Dia menempelkan dagu pada meja. Dia tidak tersenyum. matanya menyorot tajam ke arah saya. Tiba - tiba jantung saya berdebar kencang. Kaus yang saya pakai bergetar karenanya.
" KAU." bisiknya
saya terkejut, begitu terkejutnya sampai saya kembali ( aduh!) tertawa. meledak - ledak, tak tertahan.
" kau serius?" saya bertanya dia di sela tawa. Saya memandang matanya. tak percaya. tetapi saya tahu dia sungguh - sungguh. Ia memandang saya dengan wajah heran, tak menegrti bagaimana bis pernyataan cintanya yang sangat serius itu di sambut tawa berderai - derai, berkepanjangan. jelas tak ada niatannya untuk bergabung, tertawa bersamanya. saya terpaksa berhenti tertawa karena tiba - tiba saja tersedak. terbatuk - batuk hingga sesak napas. dia duduk tegak di depan saya. tak bergeming.
" ini serius?" saya bertanya sekali lagi, setelah setengah mati menarik napas, melenyapkan batuk. Kali ini saya tak lagi bisa tertawa. Hilang rasa lucu yang tadi begitu. dia mengangguk. Saya menarik nafas dalam - dalam.
" apa kau cinta padaku?" tanya nya. Sesak napas itu kembali lagi. Saya tak tahu harus menjawab apa saya suka melihat wajahnya. rambutnya yang panjang. Juga bibirnya yang mungil. Tapi cinta! saya tidak tahu apakah itu sudah bisa dibilang cinta. Entah berapa lama saya berdiam diri, tak bisa menjawb pertanyaannya.
" Kau tidak cinta padaku?" katanya dengan suara yang sangat lemah. nyaris tak terdengar. Dia hampir menangis. Saya tak suka melihatnya begini. Dia sudah siap pergi, ktika saya memegang tangan nya yang dingin, memaksanya duduk kembali. Walau tampak enggan, dia juga mau duduk di samping saya. Dingin sekali saya mengigil. Saya tak tahu harus bilan apa. pertanyaan nya terus menggema di kepala saya, Cinta padanya? saya tidak tahu, benar - benar tidak tahu. tetapi jujur saja, saya ingin sekali menciumnya. Ya, mencium bibirnya yang pucat, tanpa warna.
" Aku pergi dulu," katanya
" Tunggu!" saya mencoba menahannya. Dia memandangi saya dengan putus asa. Saya yakin dia tak tahu apa yang sedang saya inginkan. Bagaimana bisa? saya sendiri saja tidak tahu yang sebenarnya saya inginkan. Payah!
Jangan tanya apa penyebab nya. Saya sendiri tidak tahu. yang pasti, tiba - tiba saja saya memeluknya telapak tangan saya menagkap wajah nya yang mungil itu. Saya mencium bibirnya yang mengatup rapat dan dingin. dia mencoba melepaskan diri. Tetapi tangan saya lebih kuat. Saya terus mencium nya sampai ahirnya dia berhenti meronta. Perlahan lengannya yang dingin itu memeluk leher saya. bibirnya yang tadi terkatup, kini mulai membuka. memberi jalan pada lidah saya yang memaksa masuk sejak tadi. Tetapi pada detik itu juga seketika ada udara yang menyeruak masuk ke rongga mulut saya. Dingin dan pahit rasanya. Deras menerjang denan kuatnya hingga tenggorokan seperti terluka. Disaat itu, ada cairan asin mengalir di sela - sela gigi. bibir terasa perih. Giginya yang tajam itu mencengkram bibir saya! saya belum pernah merasakan ciuman seperti ini. Dia tidak juga mengangkat kepalanya. Matanya terpejam rapat, pelukannya begitu ketat. Saya mencoba menarik lidah yang beku karena udara dingin dan pahit yang terus - menerus mengalir, yang menjelajah turun hingga ke ujung - ujung kaki. Kepala terasa pusing, segalanya berputar cepat, berdesing. Sekali lagi saya mencoba melepaskan diri. tetapi dia kian erat memeluk. saya mulai sesak napas. tapi saya tak bisa menarik udara segar masuk ke lubang hidung. Saya tak bisa bernafas. tidak bisa! saya berteriak keras! tapi tak ada suara yang keluar. Saya perlu udara! saya kedinginan! dengan sekuat tenaga saya mencoba melepaskan diri dari pelukannya dari ciuman nya .Tapi tidak bisa.
******
Siang tadi sarjana baru di wisuda. Mereka berbaris rapi. Pakai toga hitam. Tetapi saya tidak ada disana. Saya ada disini, bersama dia. danIbu mewakili saya.
Malam itu, setelah kami berciuman saya tak lagi bisa bernafas. Buat selamanya. Saya mati denganudara dingin dan pahit yang dia biarkan masuk ke rongga mulut saya. dia telah membawa saya kedunia nya. MAAF katanya, bukan disengaja. katanya ini semua terjadi karena saya. Ya, saya yang memulai. saya menciumnya. Dia tak mau. saya memaksa. Katanya dia pikir saya tahu akibatnya. Sumpah, saya tidak tahu.
" MAAFkan saya," katanya sambil menggemgam tangan saya. tak lagi terasa dingin seperti biasanya. saya hanya memandang nya dan saya mencoba tersenyum. Air mata saya mengalir.
" maafkan saya." katanya lagi. Dia mendekatkan wajahnya. dekat sekali bibirnya menyentuh dahi, alis,bulu mata, pipi, hidung.... Dan kami berciuman lagi, lagi,..... dihadapan kami ibu duduk memeluk bantal yang basah.
Kami berciuman lagi...
****
love -- AH --
Categorized |
Cerita
|
Posted by
Don
Artikel Lainnya: Cerita
Aku Melihat, Aku Mendengar, Aku Merasa.
Ku gunakan semua Inderaku Untuk Menyerap dan Belajar.
Aku Tuliskan Disini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 Responses to “Kisses part I ( Maaf )”
Post a Comment